TAHUKAH ANDA BAHWA ADA 3 RESIKO HIDUP

Pekerjaan sebagai agen asuransi memang sulit namun kemauan saya yang kuat merupakan hal yang slalu membuat saya tetap semangat dengan berprinsip bahwa tidak semua orang mengerti dan memahami asuransi. Mengikuti asuransi sama dengan menyisihkan sebagian dari pendapatan Anda tiap bulannya/3 bln/6 bln/tahun atau sekaligus bayar selama minimal 10 tahun dengan masa pertanggungan meninggal sampai 99 thn dan masa pertanggungan sakit/kecelakaan sampai dengan usia 55/65/75 sesuai pilihan nasabah dan kesanggupan premi nasabah (uang yang ditabung secara berkala). Kebanyakan orang selalu langsung menolak kalo diajak bicara mengenai asuransi karena mereka merasa belum membutuhkan asuransi. Padahal pada saat terjadi sesuatu yang tidak diinginkan seperti sakit/kecelakaan, mereka baru sadar bahwa mereka membutuhkan asuransi. Hal itu saya alami pada saat saya mengunjungi paman saya yang sedang dalam keadaan sakit stroke di rumahnya. Beliau menanyakan mengenai tawaran saya setahun yang lalu “Masih Bisa gak, aku masuk asuransi?. Saya melihat seperti ada penyesalan pada raut wajahnya. Namun saya tidak bisa menyalahkannya karena waktu saya menawarkan asuransi kepada beliau setahun yang lalu, yang menolak saat itu adalah istrinya (bibi) dengan alasan ada ASKES yang menanggung suaminya karena bibi saya bekerja sebagai PNS. Seketika saya berpaling melihat bibi saya dan dia mengatakan bahwa jatah dari ASKES sudah habis untuk biaya perobatan jadi terpaksa dibawa ke rumah. Saya hanya bisa menjawab agen asuransi manapun pasti akan menolak karena salah satu syarat utama untuk masuk asuransi adalah calon nasabah dalam keadaan sehat/tidak cacat dan masih bisa bekerja. Mendengar jawaban itu, bibi saya langsung menanyakan “apa saja syarat untuk masuk Prudential, aku mau masuk sekarang”. Saya langsung mewawancarai, menjelaskan dan menyerahkan form SPAJ (Surat Pengajuan Asuransi Jiwa) untuk diisi, kemudian saya membuat proposal sesuai kebutuhan bibi saya.
Contoh Proposal dapat dilihat disini

Beranjak dari rumahnya, saya semakin semangat menawarkan asuransi terutama keluarga terdekat saya karena ternyata sebagai agen asuransi secara tidak langsung menyelamatkan keuangan nasabah dari hal-hal yang tidak diinginkan seperti sakit/kecelakaan. Ditambah bekal dari training yang diadakan di kantor membuat saya semakin percaya diri untuk prospek.  Hal yang slalu saya ingat dalam training yaitu kita sebagai manusia memiliki 3 resiko hidup yaitu:

1. Hidup Terlalu Singkat
Bagaimana kehidupan keluarga atau orang-orang yang kita cintai pada saat kita sebagai pencari nafkah cepat “dipanggil”/”meninggal”? Yang jelasnya kita tak ingin membebani mereka dengan berbagai beban biaya hidup yang semakin lama semakin mahal. Alangkah bijaknya jika suatu saat kita dipanggil/meninggal, kita meninggalkan sesuatu yang berharga berupa warisan yang membantu mereka  untuk melanjutkan hidup mereka. Jangan pula malah meninggalkan hutang yang pastinya akan membuat mereka semakin sengsara. Bisa jadi malah membenci Anda.

2.  Hidup Terlalu Lama
Bagaimana kehidupan Anda dan keluarga pada saat Anda tidak sanggup lagi bekerja karena sudah saatnya pensiun? Akankah Anda akan membebani anak anda yang tentunya mereka pun memiliki keluarga yang harus mereka penuhi kebutuhan hidupnya. Bayangkan juga biaya hidup yang semakin lama semakin mahal yang artinya biaya hidup anda sekarang tidaklah sama dengan biaya hidup anda nantinya. Anda harus memiliki tabungan/investasi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan anda dan keluarga

3.       Sakit/Kecelakaan
Perlu kita ketahui bahwa penyebab kematian tertinggi di Indonesia dikarenakan oleh sakit/ kecelakaan. Bagaimana kehidupan anda jikalau tiba-tiba anda mengalami sakit/kecelakaan? Apakah anda akan membebani keluarga anda dengan biaya Rumah Sakit? Banyak kita dalam mencapai impian seperti memiliki rumah sendiri, atau semua hal yang sifatnya pribadi (mobil pribadi, sepeda motor pribadi dll) mengalami masa cobaaan yang membuat impian kita kandas ditengah jalan karena terbentur dengan biaya perobatan. Saat anda mengalami sakit/kecelakaan tentunya anda akan merogoh kocek anda untuk biaya perobatan yang kita tahu biaya perobatan semakin lama semakin mahal. Pihak RS pasti langsung menanyakan “Siapa yang menjamini ?” Gk mungkin Jamin Ginting kan!



Kesimpulan dari hal diatas, semua manusia pasti akan mengalami salah satu resiko hidup yang disebutkan diatas. Kita sebagai manusia yang diberi hikmat, sehat jasmani dan rohani perlu adanya jaminan/asuransi yang memproteksi/menjaga keuangan kita dan keluarga dari resiko hidup. Oleh karena resiko hidup diatas, Asuransi Prudential yang mottonya Always Listening Always Understanding (Selalu Mendengar dan Memahami Kebutuhan Nasabah) memberikan solusi yaitu produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (unit link) pertamanya di tahun 1999 dan menjadi pemimpin pasar untuk produk tersebut. Kalo sudah begitu apalagi yang ditunggu, selagi anda sehat dan punya uang hubungi saya. Saya siap membantu anda menjelaskan dan merencanakan keuangan anda dengan senang hati karena anda melakukannya demi orang-orang yang anda cintai. Klo anda sudah sakit, jangan hubungi saya tetapi hubungi pegadaian yang siap membantu anda menilai harga barang-barang berharga anda!
Salam Sukses!

Perencanaan Keuangan Keluarga

Ada seorang teman menyampaikan kepada saya, bahwa saat ini dia selaku seorang suami, diminta oleh istrinya untuk membayar seluruh kebutuhan keluarga yang ada. Sedangkan sang istri juga bekerja dan memiliki gaji yang besar pula, namun istri tidak pernah atau sangat jarang memberikan kontribusi bagi kebutuhan keluarga mereka.

Sang istri berkata: "Suami memiliki kewajiban memenuhi nafkah keluarga dan istrinya!
Sehingga bila istri bekerja dan memiliki pendapatan, maka itu adalah hak istri."

Sayapun berkata kepada kawanku itu: "Lantas buat apa kamu kawin? Bukankah sebuah perkawinan memiliki tujuan meninggalkan dan menanggalkan 2 kepentingan dan masa lalu, dan membangun masa depan dan hanya ada 1 kepentingan yaitu keluarga"

Saya melanjutkan: "Waktu kamu pacaran, ngomongin apa aja sich? Apa nggak pernah nyinggung masalah keuangan dan pengaturannya?"

Jawaban teman saya: "Kita selama ini tidak pernah ngomongin uang dan rejeki, abis kagak enak"

"Ya udah, bila dahulu belum pernah ngomong, sekarang waktunya ngomong. Jangan dibiarkan dan didiamkan. Bicaralah masalah keuangan secara terbuka".

 
Menurut saya, rejeki, gaji dan bonus atau apapun namanya yang diterima suami atau istri, itu adalah hak dan milik keluarga dan anak-anak, bukan lagi milik suami atau istri sendiri.

Suami bekerja buat keluarga, istri juga bekerja buat keluarga,  so semua hasil mencari nafkah adalah hak keluarga,  dan diperuntukkan bagi kebutuhan, keperluan dan kesejahteraan keluarga.

Jadi tidak ada lagi, ini uang gua, itu uang elo, melainkan ini uang kita bersama, mari lakukan perencanaan demi masa depan bahagia dan sejahtera.
Bukankah itu tujuan Anda berkeluarga?

 
Perkawinan bukan sekadar buka baju dan celana, melainkan buka hati, pikiran dan buka dompet juga.

Uang harus dibicarakan secara terbuka dan dengan hati yang tulus, lalu buatlan rencana yang bertujuan masa depan, dan tindak lanjuti dengan disiplin dan komitmen tinggi.
Suami dan istri saling mengoreksi dan memberitahu, bila salah satu atau salah dua melakukan penyimpangan atau tidak sesuai rencana.

Ayo bekerjasama menata masa depan, melalui perencanaan keuangan keluarga.

Kalo bukan kite yang ngatur, emang siapa lagi yang mau ngatur?

Kalo elu pada kere atau suseh hidupnya nanti, orang laen akan berkata: "Emang Gua pikirin, susah dicari sendiri!!!"


 
Selamat menata masa depan bahagia dan sejahtera.
           

Juli 2015